Senin, 10 Januari 2011

ISD BAB 11

Nama      : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM       : 10110601
Kelas       : 1KA26


PERTENTANGAN DAN KETEGANGAN DALAM MASYARAKAT

Konflik mengandung pengertian tingkah laku yang lebih luas daripada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar. Terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri dasar dari suatu konflik, yaitu

1.   terdapat dua atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat dalam konflik
2.   unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan, tujuan,
      masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan
3.   terdapat interraksi diantar bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut

Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada lingkungan diri seseorang, kelompok, dan masyarakat. Adapun cara pemecahan konflik tersebut :

1.   Elimination, pengunduran diri dari salah satu pihak yang terlibat konflik
2.   Subjugation atau Domination, pihak yang mempunyai kekuasaan terbesar dapat
     memaksa pihak lain untuk mengalah
3.   Majority Rule, artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting
4.   Minority Consent, artinya kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok
     minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta kesepakatan untuk
            melakukan kegiatan bersama
5.   Compromise, artinya semua sub kelompok yang terlibat dalam konflik berusaha mencari
     Dan  mendapatkan jalan tengah
6.   Integration, artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan,
    dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang
            memuaskan bagi semua pihak


Golongan-Golongan yang Berbeda dan Integrasi Sosial
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia. Masyarakat majemuk dipersatukan oleh sistem nasional yang mengintegrasikannya melalui jaringan-jaringan pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial. Aspek-aspek dari kemasyarakatan tersebut, yaitu Suku Bangsa dan Kebudayaan, Agama, Bahasa, Nasional Indonesia.
Masalah besar yang dihadapi Indonesia setelah merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk. Integrasi bukan peleburan, tetapi keserasian persatuan. Masyarakat majemuk tetap berada pada kemajemukkannya, mereka dapat hidup serasi berdampingan (Bhineka Tunggal Ika), berbeda-beda tetapi merupakan kesatuan. Adapun hal-hal yang dapat menjadi penghambat dalam integrasi:
1.   Tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya
2.   Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi antar warga negara
     Indonesia asli dengan keturunan (Tionghoa,arab)
3.   Agama, sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan kesukuan
4.   Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan
     tertentu

INTEGRASI SOSIAL
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
§  Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
§  Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.


Study Kasus (Kelompok 5)
Jakarta - Agama, dalam bentuknya yang bagaimana pun adalah Way of Live yang menghubungkan manusia dengan suatu Dzat di luar dirinya yang dianggap absolute, Tuhan. Dalam proses interaksi dirinya dengan Dzat dimaksud, agama dianggap memberikan panduan untuk menuju titik komunikatif antara keduanya. 

Jalan hidup, itulah barangkali yang memberikan agama sebagai Syari'at (asal kata assari' yang berarti jalan besar-raya). Untuk dapat melalui jalan besar itu pada fitrahnya manusia memilih jalan kecil (al-thariq: jalan kecil-gang) yang mereka anggap lebih cepat untuk sampai ke syariat itu. 

Pernyataan ini dapat diilustrasikan bahwa syariat adalah jalan besar yang secara langsung menuju tujuan utama (Tuhan), dan al-thariq adalah jalan-jalan kecil yang menghubungkan manusia menuju jalan besar (syariat) tersebut. Di jalan itu terdapat banyak lajur kendaraan yang berbeda pula. Bahkan, ada yang lebih senang melewati jalur-jalur alternatif, atau bahkan jalan tol untuk lebih cepat sampai.

Jenis kendaraan yang dipakai pun macam-macam. Dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga ke bus besar. Warna dan mereknya pun berbeda. Namun, semua kendaraan itu menuju satu tujuan yang sama. 

Pemahaman terhadap cara pandang di atas akan dapat menumbuhkan kesadaran pada setiap pemeluk agama untuk saling menghormati sesame pengguna jalan (syariat) hidup beragama. Dengan memahami dan menghormati jenis dan bahkan "merk" kendaraan yang dipakai dengan tidak mengatakan mereka yang berbeda dari sebagiannya adalah tidak sah.

Ironisnya, dalam prakteknya perbedaan jalan ini memunculkan banyak persinggungan yang tak jarang berujung konflik (adu jotos-mungkin). Realitas ini semakin membiaskan konsepsi universal tentang satu tujuan yang sma, Tuhan.

Selasa, 04 Januari 2011

ISD BAB 10

Nama      : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM       : 10110601
Kelas       : 1KA26


FUNGSI AGAMA

a. Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai
      Bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan
   dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan
   memaksa istimewa,  karena ganjaran dan hukumnya bersifat duniawai dan supramanusiawi
   dan ukhrowi.

b. Fungsi agama di bidang sosial
        Adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di anggota
    anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu
    mempersatukan mereka.

c. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu
   Memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntutan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut kita harus beribadat secara teratur dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras, hidup sederhana dan mampu untuk menahan diri.  Maka perkembangan sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya.

d. Memberi rasa memiliki kepada sesuatu kelompok manusia.
        Agama merupakan satu faktor dalam pembentukan kelompok manusia. Hal ini terjadi
     karena sistem agama menimbulkan keseragaman yang bukan saja sama, melainkan tingkah
     laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

*Sumber: Buku Cetak ISD MKDU, Gunadarma



Pelembagaan Agama
   Agama merupakan sesuatu yang bersifat universal, abadi, yang mengatur masyarakat dalam semua sendi kehidupan. Jika berbicara tentang pelembagaan agama, ada beberapa  hal yang perlu dijawab, seperti, untuk apa agama ada, unsur-unsur, fungsi, bentuk dan struktur agama.
        Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, diantaranya :
1.  Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nila sakral.
    Masyarakat tipe ini kecil,terisolir dan terbelakang.Anggota masyarakat menganut agama yang
    sama.
2. Masyarakat-masyarakat Praindustri yang sedang berkembang
    Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, perkembangan teknologi lebih tinggi dari tipe yang
     pertama, agama memiliki arti dan ikatan kepada sistem nilai pada masyarakat.

3. Masyarakat berkembang.
Agama selalu memberikan petunjuk kepada masyarakat bagaimana selamat di dunia dan di akhirat dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan rasa aman dan tenang kepada pemeluk agama dalam menjalankan kehidupan beragamanya, untuk itulah agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial , merupakan sesuatu yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.

     Lembaga-lembaga keagamaan pada puncaknya  berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan dan terkadang muncul berupa organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah,NU, dll. Pelembagaan agama itu sendiri  pada puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan(ibadat) dan tingkat organisasi.




STUDY KASUS
Umat Hindu Ramai-ramai "Mekemit"
  
KARANGASEM— Umat Hindu di Bali ramai-ramai mekemit atau berjaga di pura dalam serangkaian hari raya Siwaratri yang berlangsung setahun sekali, tepatnya pada Catur Dasi Krsna Paksa Bulan Magha, yang jatuh Senin (3/1/2011).

Seperti halnya di Pura Penataran Pande Bujaga, Rendang, Kabupaten Karangasem, tampak sejak Senin pagi umat Hindu telah melakukan serangkaian peribadatan untuk selanjutnya mekemit semalam suntuk hingga Selasa pagi.

Jro Mangku Pande Made Tastra, tokoh spiritual setempat, mengatakan, Siwaratri merupakan hari suci, yang dimaknai umat Hindu sebagai hari untuk menyucikan diri.

Upaya penyucian diri itu, lanjutnya, tidak hanya dilakukan umat melalui mekemit atau jagra, tetapi juga dengan melaksanakan upawasa  (tidak makan dan tidak minum) dan monabrata (berdiam diri atau tidak bicara yang bukan-bukan).

Jro Mangku Komang Merta, tokoh spiritual asal Desa Nongan, Karangasem, mengungkapkan, saat Siwaratri, sebagian besar warga di kampungnya beramai-ramai melakukan mekemit atau berjaga semalaman di Pura Penataran Pande Bujaga. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama dan berlaku turun-temurun dari generasi ke generasi.

"Biasanya sebagian besar warga, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua, ke pura mulai pukul 19.00. Begitu sampai di pura, warga langsung melakukan persembahyangan bersama," ujar wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang banten (perlengkapan ritual) itu.

Sembahyang yang dilakukan, kata Jro Mangku, berlangsung tiga kali, yakni saat pertama kali datang ke pura sekitar pukul 19.00, pada pukul 24.00, dan sembahyang terakhir pukul 06.00 Wita. Seusai persembahyangan di keremangan pagi, warga pun kembali ke rumah masing-masing.

Dia menyebutkan, saat melakukan jagra, para orang tua akan megending atau menyanyikan tembang-tembang suci. Anak-anak muda akan megambel sebagai pengiring tembang suci yang mengalun. Suasana syahdu akan terasa di keheningan malam hingga akhirnya fajar menyingsing.

"Nyanyian lagu-lagu suci berakhir menjelang pagi. Setelah bersembahyang, warga akan kembali. Tradisi mekemit di pura inilah yang membedakan Siwaratri dengan hari raya lain bagi umat Hindu di Bali," katanya.

*Sumber: http://oase.kompas.com


Opini: Menurut saya kegiatan keagamaan seperti yang di atas sangat bagus dan patut dicontoh oleh masyarakat lain. Kerena kegiatan tersebut mengandung rasa kekeluargaan dan banyak pelajaran agama dari kegiatan tersebut dan masyarakat Bali masih memegang teguh tradisi kebudayaannya. Tradisi “Makemit” yaitu menjaga pura dalam memperingati hari raya Siwaratri untuk penyucian diri dan masyarakat Bali melakukan puasa, ternyata tradisi ini sudah lama dilakukan dan sudah turun-menurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Semoga tradisi ini dapat dilestarikan, bukan hanya dari masyarakat Bali saja melainkan seluruh tradisi kebudayaan yang ada di Indonesia.