Senin, 14 Maret 2011

IBD BAB II

Nama  : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM   : 10110601
Kelas   : 1KA26

IBD BAB II
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


Unsur-unsur yang Membangun Manusia :

Manusia itu terdiri dari empat unsur yang sating terkait, yaitu
a. Jasad, yaitu : badan kasar manusia yang nampat pada luamya, dapat diraba dan difoto, dan
                        menempati ruang dan waktu.
b. hayat, yaitu : mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak.
c. roh, yaitu     : bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami
                          kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat
                          lahimya kebudayaan.
d. nafsu, dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.

Hakekat Manusia :

a.    Ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena mempunyai akal, budi, dan perasaan.
b.    Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi
     kebutuhan-kebutuhannya.
c.    Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan  
     sosial.
d.   yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya
     dan mampu menentukan nasibnya.
e.    Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai
    (tuntas) selama hidupnya.
f.     Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya
     sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
g.    Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi
     yang tak terbatas
h.    Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
i.      Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa
     berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

*sumber : http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_12.html


Pengertian Kebudayaan Menurut Para Tokoh :

1. Melville J. Herkovits
    Kebudayaan sebagai suatu yang superorganis karena dapat diwariskan secara turun-temurun dari
    generasi ke generasi lain.
2. Edward B. Taylor
    Kebudayaan sebagai hal kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
    hukum, adat istiadat, kemampuan-kemampuan, kebiasaan-kebiasaan atau semua hal yang dimiliki
    manusia sebagai anggota masyarakat.
3. Koentjaraningrat
    Kebudayaan sebagai  keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
    kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

4. A.L Krober dan C. Kluckhon
    kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.
5. Selo Soemardjan dan Soelaeman sumardi
    Kebudayaan sebagai semua hasil karya rasa dan cipta masyarakat.
6. Arkeolog R. Seokmono
    Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah
    pikiran dan dalam penghidupan.
7. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
    Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk
    yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara
    genetikal.

Unsur-Unsur Kebudayaan

Menurut  Melville J. Herkovits :
1. Sistem norma-norma yang memungkinkan kerja sama antara anggota masyarakat
2. Organisasi ekonomi
3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan seperti keluarga, dan
4. Organisasi kekuatan

Menurut Clyde Kluckhohn :
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi
3. Sistem kemasyarakatan
4. Bahasa
5. Kesenian
6. Sistem pengetahuan
7. Sistem kepercayaan


Wujud Kebudayaan

1. Kompleks gagasan , konsep dan pikiran manusia
          - sifatnya abstrak , tak dapat dilihat dan berpusat di kepala manusia
             contoh : tata tertib ujian di Gunadarma, cita-cita Gunadarma dan sebagainya
       - disebut sistem sosial.

      2. Kompleks aktifitas
          - sifatnya kongkrit, berupa aktifitas manusia yang saling berinteraksi
             contoh : karyawan yang sedang mengetik di ruangan kantor Gunadarma
          - disebut system social

      3. Benda
   - sifatnya kongkrit , berwujud kebendaan
     contoh: sederetan buku-buku yang ada di perpustakaan


Perubahan Kebudayaan

          Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolisasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat sekitarnya
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah dari kebudayaan tadi.Dimana gerak manusia terjadi oleh karena ia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya.

Terjadinya gerak / perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:
1.    sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya: peruban jumlah
     dan komposisi penduduk
2.    sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Seperti masyarakat yang
     hidupnya terbuka yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain
     cenderung untuk berubah lebih cepat.
Contoh: antara masyarakat di kota dengan masyarakat di pedesaan ( yang sangat terisolasi ) maka akan dengan cepat mengalami perubahan di kota dibanding dengan di desa tersebut , seperti misalnya mode pakaian , rambut dsb.
Perubahan ini selain karena jumlah penduduk dan komposisinya juga karena adanya difusi (penyebaran) kebudayaan , penemuan-penemuan baru khususnya teknologi dan inovasi.

Hubungan Antara Manusia dan Kebudayaan

Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1. Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
    Melalui ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia

2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang
    terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala
    pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.

3. Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa
    manusia mempelajari kembali masyarakamya sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga
    manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

*Sumber: Buku Sosiologi SMA Kelas XI, penerbit ESIS

IBD BAB I

Nama  : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM   : 10110601
Kelas   : 1KA26


BAB I
IBD SEBAGAI MKDU

Pengertian IBD

             Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang artinya manusia, berbudaya dan halus.

Tujuan IBD

             Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :
1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah
     menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah
     kemansiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan
     yang menyangkut kedua hal tersebut.
3. Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bagnsa dan Negara serta ahli dalam bidang
    disiplin masing-masing tidak jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang
    ketat.
4. menguasahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama
    lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam
    berkomunikasi.

Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar

Bertitik tolak dari kerangka tujuan yagn telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :
1.Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya
   yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (the humanities), baik dari segi
   masing-masing keahlian (disiplin) didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antar
   bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya
2.Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam
   kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
   Menilik kedua pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD, nampak dengan jelas bahwa
   manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian.
   Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesame, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan
   bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD.

*sumber : http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-
                 budaya-dasar/

Senin, 10 Januari 2011

ISD BAB 11

Nama      : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM       : 10110601
Kelas       : 1KA26


PERTENTANGAN DAN KETEGANGAN DALAM MASYARAKAT

Konflik mengandung pengertian tingkah laku yang lebih luas daripada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar. Terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri dasar dari suatu konflik, yaitu

1.   terdapat dua atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat dalam konflik
2.   unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan, tujuan,
      masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan
3.   terdapat interraksi diantar bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut

Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada lingkungan diri seseorang, kelompok, dan masyarakat. Adapun cara pemecahan konflik tersebut :

1.   Elimination, pengunduran diri dari salah satu pihak yang terlibat konflik
2.   Subjugation atau Domination, pihak yang mempunyai kekuasaan terbesar dapat
     memaksa pihak lain untuk mengalah
3.   Majority Rule, artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting
4.   Minority Consent, artinya kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok
     minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta kesepakatan untuk
            melakukan kegiatan bersama
5.   Compromise, artinya semua sub kelompok yang terlibat dalam konflik berusaha mencari
     Dan  mendapatkan jalan tengah
6.   Integration, artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan,
    dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang
            memuaskan bagi semua pihak


Golongan-Golongan yang Berbeda dan Integrasi Sosial
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia. Masyarakat majemuk dipersatukan oleh sistem nasional yang mengintegrasikannya melalui jaringan-jaringan pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial. Aspek-aspek dari kemasyarakatan tersebut, yaitu Suku Bangsa dan Kebudayaan, Agama, Bahasa, Nasional Indonesia.
Masalah besar yang dihadapi Indonesia setelah merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk. Integrasi bukan peleburan, tetapi keserasian persatuan. Masyarakat majemuk tetap berada pada kemajemukkannya, mereka dapat hidup serasi berdampingan (Bhineka Tunggal Ika), berbeda-beda tetapi merupakan kesatuan. Adapun hal-hal yang dapat menjadi penghambat dalam integrasi:
1.   Tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya
2.   Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi antar warga negara
     Indonesia asli dengan keturunan (Tionghoa,arab)
3.   Agama, sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan kesukuan
4.   Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan
     tertentu

INTEGRASI SOSIAL
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
§  Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
§  Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.
Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.


Study Kasus (Kelompok 5)
Jakarta - Agama, dalam bentuknya yang bagaimana pun adalah Way of Live yang menghubungkan manusia dengan suatu Dzat di luar dirinya yang dianggap absolute, Tuhan. Dalam proses interaksi dirinya dengan Dzat dimaksud, agama dianggap memberikan panduan untuk menuju titik komunikatif antara keduanya. 

Jalan hidup, itulah barangkali yang memberikan agama sebagai Syari'at (asal kata assari' yang berarti jalan besar-raya). Untuk dapat melalui jalan besar itu pada fitrahnya manusia memilih jalan kecil (al-thariq: jalan kecil-gang) yang mereka anggap lebih cepat untuk sampai ke syariat itu. 

Pernyataan ini dapat diilustrasikan bahwa syariat adalah jalan besar yang secara langsung menuju tujuan utama (Tuhan), dan al-thariq adalah jalan-jalan kecil yang menghubungkan manusia menuju jalan besar (syariat) tersebut. Di jalan itu terdapat banyak lajur kendaraan yang berbeda pula. Bahkan, ada yang lebih senang melewati jalur-jalur alternatif, atau bahkan jalan tol untuk lebih cepat sampai.

Jenis kendaraan yang dipakai pun macam-macam. Dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga ke bus besar. Warna dan mereknya pun berbeda. Namun, semua kendaraan itu menuju satu tujuan yang sama. 

Pemahaman terhadap cara pandang di atas akan dapat menumbuhkan kesadaran pada setiap pemeluk agama untuk saling menghormati sesame pengguna jalan (syariat) hidup beragama. Dengan memahami dan menghormati jenis dan bahkan "merk" kendaraan yang dipakai dengan tidak mengatakan mereka yang berbeda dari sebagiannya adalah tidak sah.

Ironisnya, dalam prakteknya perbedaan jalan ini memunculkan banyak persinggungan yang tak jarang berujung konflik (adu jotos-mungkin). Realitas ini semakin membiaskan konsepsi universal tentang satu tujuan yang sma, Tuhan.

Selasa, 04 Januari 2011

ISD BAB 10

Nama      : Ambrosius Nurhadi Prasetyo
NPM       : 10110601
Kelas       : 1KA26


FUNGSI AGAMA

a. Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai
      Bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan
   dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan
   memaksa istimewa,  karena ganjaran dan hukumnya bersifat duniawai dan supramanusiawi
   dan ukhrowi.

b. Fungsi agama di bidang sosial
        Adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di anggota
    anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu
    mempersatukan mereka.

c. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu
   Memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntutan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut kita harus beribadat secara teratur dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras, hidup sederhana dan mampu untuk menahan diri.  Maka perkembangan sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya.

d. Memberi rasa memiliki kepada sesuatu kelompok manusia.
        Agama merupakan satu faktor dalam pembentukan kelompok manusia. Hal ini terjadi
     karena sistem agama menimbulkan keseragaman yang bukan saja sama, melainkan tingkah
     laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.

*Sumber: Buku Cetak ISD MKDU, Gunadarma



Pelembagaan Agama
   Agama merupakan sesuatu yang bersifat universal, abadi, yang mengatur masyarakat dalam semua sendi kehidupan. Jika berbicara tentang pelembagaan agama, ada beberapa  hal yang perlu dijawab, seperti, untuk apa agama ada, unsur-unsur, fungsi, bentuk dan struktur agama.
        Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, diantaranya :
1.  Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nila sakral.
    Masyarakat tipe ini kecil,terisolir dan terbelakang.Anggota masyarakat menganut agama yang
    sama.
2. Masyarakat-masyarakat Praindustri yang sedang berkembang
    Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, perkembangan teknologi lebih tinggi dari tipe yang
     pertama, agama memiliki arti dan ikatan kepada sistem nilai pada masyarakat.

3. Masyarakat berkembang.
Agama selalu memberikan petunjuk kepada masyarakat bagaimana selamat di dunia dan di akhirat dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Untuk kepentingan tersebut perlu jaminan rasa aman dan tenang kepada pemeluk agama dalam menjalankan kehidupan beragamanya, untuk itulah agama masuk dalam sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial , merupakan sesuatu yang menyebar mulai dari bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja yang dalam beberapa hal penting bersifat keagamaan.

     Lembaga-lembaga keagamaan pada puncaknya  berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan dan terkadang muncul berupa organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah,NU, dll. Pelembagaan agama itu sendiri  pada puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan(ibadat) dan tingkat organisasi.




STUDY KASUS
Umat Hindu Ramai-ramai "Mekemit"
  
KARANGASEM— Umat Hindu di Bali ramai-ramai mekemit atau berjaga di pura dalam serangkaian hari raya Siwaratri yang berlangsung setahun sekali, tepatnya pada Catur Dasi Krsna Paksa Bulan Magha, yang jatuh Senin (3/1/2011).

Seperti halnya di Pura Penataran Pande Bujaga, Rendang, Kabupaten Karangasem, tampak sejak Senin pagi umat Hindu telah melakukan serangkaian peribadatan untuk selanjutnya mekemit semalam suntuk hingga Selasa pagi.

Jro Mangku Pande Made Tastra, tokoh spiritual setempat, mengatakan, Siwaratri merupakan hari suci, yang dimaknai umat Hindu sebagai hari untuk menyucikan diri.

Upaya penyucian diri itu, lanjutnya, tidak hanya dilakukan umat melalui mekemit atau jagra, tetapi juga dengan melaksanakan upawasa  (tidak makan dan tidak minum) dan monabrata (berdiam diri atau tidak bicara yang bukan-bukan).

Jro Mangku Komang Merta, tokoh spiritual asal Desa Nongan, Karangasem, mengungkapkan, saat Siwaratri, sebagian besar warga di kampungnya beramai-ramai melakukan mekemit atau berjaga semalaman di Pura Penataran Pande Bujaga. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama dan berlaku turun-temurun dari generasi ke generasi.

"Biasanya sebagian besar warga, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua, ke pura mulai pukul 19.00. Begitu sampai di pura, warga langsung melakukan persembahyangan bersama," ujar wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang banten (perlengkapan ritual) itu.

Sembahyang yang dilakukan, kata Jro Mangku, berlangsung tiga kali, yakni saat pertama kali datang ke pura sekitar pukul 19.00, pada pukul 24.00, dan sembahyang terakhir pukul 06.00 Wita. Seusai persembahyangan di keremangan pagi, warga pun kembali ke rumah masing-masing.

Dia menyebutkan, saat melakukan jagra, para orang tua akan megending atau menyanyikan tembang-tembang suci. Anak-anak muda akan megambel sebagai pengiring tembang suci yang mengalun. Suasana syahdu akan terasa di keheningan malam hingga akhirnya fajar menyingsing.

"Nyanyian lagu-lagu suci berakhir menjelang pagi. Setelah bersembahyang, warga akan kembali. Tradisi mekemit di pura inilah yang membedakan Siwaratri dengan hari raya lain bagi umat Hindu di Bali," katanya.

*Sumber: http://oase.kompas.com


Opini: Menurut saya kegiatan keagamaan seperti yang di atas sangat bagus dan patut dicontoh oleh masyarakat lain. Kerena kegiatan tersebut mengandung rasa kekeluargaan dan banyak pelajaran agama dari kegiatan tersebut dan masyarakat Bali masih memegang teguh tradisi kebudayaannya. Tradisi “Makemit” yaitu menjaga pura dalam memperingati hari raya Siwaratri untuk penyucian diri dan masyarakat Bali melakukan puasa, ternyata tradisi ini sudah lama dilakukan dan sudah turun-menurun dari generasi ke generasi selanjutnya. Semoga tradisi ini dapat dilestarikan, bukan hanya dari masyarakat Bali saja melainkan seluruh tradisi kebudayaan yang ada di Indonesia.